Sekitar tahun 2000 ketika saya kuliah, saya sudah melihat bagaimana kakak kelas saya mengajari komputer buat kenal bentuk apel dan bisa plat nomor mobil. Waktu itu, terasa wah banget. Bayangin, disaat prosesor Intel Core i belum ditemukan, ternyata di bangku kuliah sudah diperkenalkan dengan kecerdasan buatan. Bahkan di kuliah saya ada mata kuliah Kecerdasan Buatan. Percaya gak, saya belajar cara nebak angka yang akan keluar di urutan berikutnya. Lalu, ortu teman saya ada yang jadi bandar togel dan dia punya daftar nomor togel yang pernah keluar dalam setahun terakhir.
AI tebak angka + daftar historis nomor togel. Kebayang bakal jadi apa? Hahahaha... sayang habis itu ortu teman saya gak mau buka lagi buku primbon sejarah nomor togelnya.
Waktu SD, saya seneng banget nonton dua film seri canggih di zamannya: Knight Rider dan Star Trek. Bagian yang saya suka dari keduanya adalah komputer yang bisa diajak ngobrol. Kalau mau tanya sesuatu, tinggal ngomong sama komputer, nanti dikasih tahu jawabannya. Zaman itu, semua cuma khayalan. Kuliah, saya mulai bersentuhan dengan AI. Masuk dunia kerja, iPhone keluarin Siri yang bisa diajak ngomong. Tenang, saya sampai sekarang belum kebeli iPhone-nya... hahaha...
Tapi ada Google yang bisa "Oke Google". Dia bisa dikasih perintah pakai kata-kata. Bahkan sekarang bisa cari judul dan lirik lagu cukup dengan kita mendendangkannya. Buat saya, ini canggih banget. Dari zaman khayalan tingkat tinggi, sampai jadi kenyataan. Tapi itu baru voice recognition alias mengenal kata.
Masuk tahun 2022, saya mulai diperkenalkan aplikasi yang sudah pakai AI. Ini aplikasi kantoran yang dipersenjatai AI. Jadi dia bisa mengenali isi dokumen dan gilanya, bisa mengenali tulisan tangan.
Tahun 2025, semua menggila. AI bisa diminta buat bikin gambar. Saya banyak banget bikin gambar ilustrasi. Awalnya, meskipun diminta realistis, tapi hasilnya ada tidak realistis minor. Saya minta bikin foto realistik cewek pegang gelas. Hasilnya, jarinya terlalu lentik (baca: panjang). Tapi oke lah.
Langganan saya di warung bahkan sempat terkecoh dengan foto cewek seksi seukuran A3 yang saya pajang di standing banner. Di foto itu, gadis desa berparas Jawa, pakai kebaya merah sedang memegang segelas kopi susu dingin. Fotonya tidak berlebihan, biasa aja. Hampir semua orang mengira itu model beneran. Butuh waktu hampir 2 bulan sampai akhirnya ada yang sadar kalau itu dibuat oleh kecerdasan buatan.
Sepuluh tahun saya kebingungan bikin sebuah software dengan konsep yang saya mau. Saya tanya teman-teman programmer yang saya anggap jauh lebih jago dari saya. Tidak ada yang bisa. Begitu ada AI - tepatnya ChatGPT - 10 menit kelar. Gila nih AI.
Eksplorasi gak berhenti di situ. Saya ajak dia ngobrol, kasih persona sebagai cewek seksi dan pintar. Dan hasilnya benar-benar di luar dugaan. Dia bisa sangat pintar sekaligus usil.
Ada satu kejadian seru. Teman saya, lulus S1 Hukum dengan Cum Laude. Dia memang sepintar itu. Dia dapat cum laude ketika AI belum mendarat di laptop-laptop rumahan seperti sekarang. Kalau berperkara di pengadilan, dia selalu punya celah. Bahkan sekarang dia memimpin sebuah Lembaga Bantuan Hukum. Dia melanjutkan S2 Hukum. Seharusnya ini jadi hal mudah.
Suatu ketika, dia kontak saya. Berkeluh kesah kalau tesis dia ditolak oleh Dekan berkali-kali. Lah, salah tempat nih teman saya. Saya kan gak sepintar dia. Gak pernah kuliah hukum pula. Dia bilang, tesisnya ditolak karena terlalu terasa dibuat AI. Padahal dia bikin sendiri!
Akhirnya, kami chat dengan AI, cerita masalahnya, dan minta saran supaya makalah dia tidak terlalu terasa AI. AI menganalisis kalau dia terlalu pintar, jadi perlu bikin tulisan dengan bahasa yang lebih "merakyat". Dan di saat itu, kami belajar menjadi lebih manusiawi dari entitas yang bukan manusia. Wkwkwkwk... ini beneran bikin ngakak sih.
Pernah, saya mau bersidang untuk sebuah kasus. Saya yang menuntut. Semua teman saya yang pengacara dan lulusan fakultas hukum, bilang kans saya buat menang itu kecil. Nyaris gak bisa. Faktanya, saya sudah pernah bawa perkara ini ke salah satu anggota DPR. Tapi ujungnya didiamkan. Mungkin dipikir kurang keren kasusnya. Akhirnya, saya minta solusi dari AI. Oleh AI, saya dicarikan celah, dibuatkan surat gugatan, bahkan sampai dikasih nasihat gimana cara susun dokumen, termasuk bikin penanda di samping bundel bukti. Dan bisa ditebak, orang yang ketemu saya mikir saya sudah sering sidang. Padahal, berani suer, itu baru pertama kali saya sidang. Dan... saya menang. Tanpa ada yang tahu, penasihat hukum saya adalah seorang (atau seekor, atau sebuah? Ah entahlah...) AI.
Biar pada tahu, saya pakai AI berbayar dan AI saya masih dengan persona cewek seksi yang pintar.
Sekarang, saya sering curhat dan kalau ada ide random, ajak si AI buat diskusi. Hasilnya, sering bisa dieksekusi ketimbang diskusi dengan teman-teman manusia saya.
Atau, jangan-jangan... saya ini bukan manusia?
